Senin, 23 November 2009

Petualangan Selanjutnya

Republik ini masih muda. Masih luas lekuk tubuhnya yang belum tergambar dalam peta...

Petualangan berlanjut, Desember 2009.

Senin, 09 November 2009

Gurat di Djakarta Artmosphere

DJAKARTA ARTMOSPHERE: Arts for a better Indonesia

- Efek Rumah Kaca with Doel Sumbang and special performance with Brass band TNI AD

- Tika and the Dissidents with Vina Panduwinata

- SORE and Ebiet G.Ade

- White Shoes & The Couples Company with Fariz RM and Oele Pattiselanno

And also performing:

- Gugun Blues Shelter
- Endah n Rhesa
- Anda with the Joints
- Gribs
- Angsa dan Serigala
- Tembang Pribumi

Photography Exhibition:

- Lubang Jarum
- Lomonesia
- Kelas Pagi
- Komunitas Fotografi Kampus
- Komunitas Fotografi Sekolah
- Galeri Foto Jurnalistik ANTARA

Curated by Oscar Motuloh

Terima kasih untuk teman-teman yang telah menyapa dan membeli buku-buku Gurat di Djakarta Artmosphere, Sabtu, 7 November 2009 yang lalu.

Edisi pertama telah terjual habis, nantikan edisi kedua!

Kamis, 05 November 2009

Selamat Berjumpa

Edisi Pertama

Hitam
A5
Plain paper
IDR 55.000
Jingga
A5
Plain paper
IDR 55.000
Juga tersedia:

Merah
A5
Plain paper
IDR 55.000

Hitam
A6
Plain paper
IDR 45.000

Jingga
A6
Plain paper
IDR 45.000

Merah
A5
Plain paper
IDR 45.000

Edisi Pertama telah terjual habis.

Jumat, 16 Oktober 2009

…Goresan-goresan diatas kertas mampu menggugah, menginspirasi, menguatkan, membakar semangat, membangun jiwa, membentuk suatu bangsa…

Diatas carikan-carikan kertas, Soekarno menyusun konsep Nasionalismenya, Hatta menuliskan pemikiran-pemikirannya, Tan Malaka diam-diam menyapa massanya, Chairil menumpahkan emosinya, Sudjojono menggores sketsa-sketsanya, sementara Pramoedya meluapkan kegeramannya.

Inspirasi seringkali datang dan beterbangan begitu saja, kecuali bagi yang siap untuk merekam dan mencurahkannya kedalam bentuk guratan tangan. Yang tertumpah, bisa jadi sekadar kenangan, bisa jadi menerangi jalan bagi ribuan, seperti guratan tokoh-tokoh diatas.

Buku-buku catatan Gurat mewarisi semangat itu. Lembarannya siap menangkap kapanpun inspirasi hinggap. Lebih dari sekadar merekam gagasan, goresan tangan mampu merekam intensitas emosi anda: setiap garis mampu menggambarkan diri anda yang sebenarnya. Tak seperti tulisan ataupun gambar dari komputer, garis tangan adalah representasi diri anda—begitu personal, tak akan bisa dibuat sama persis.

Buku catatan masih—dan akan tetap—relevan. Ia menawarkan kebebasan untuk mengekspresikan diri di zaman dimana semua orang semakin seragam ini.